-o0o-
Cerita tentang nenekku tercinta, yang semasa hidupnya dihabiskan bersama dengan kakekku, bahkan pada saat detik-detik akhir hidupnya pun, nenekku menutup mata dipangkuan kakekku tercinta. Hanya berdua di rumah yang dibangun oleh mereka bersama, dan dengan penuh keikhlasan kakekku mengusap rambut nenekku dengan lembut dan mengecup keningnya sebaga tanda perpisahan untuk nanti dipertemukan kembali di alam sana.Selang 8 bulan kemudian, akhirnya kakekku pun menyusul dengan diiringi oleh hampir semua anak cucunya, pada detik-detik akhir dia berkata bahwa nenek sudah datang menjemput, lalu dia tersenyum tipis dan meninggalkan kami semua dalam iringan haru dari keluarga.
Itulah sisa kenangan yang dapat aku ingat dari cerita dan hal yang aku alami sendiri, rumah tangga yang harmonis, walau belum tentu setiap hari harus rukun dan damai. Nenekku termasuk sosok yang tegar, keras, dan galak (subhanallah, kharismanya akan selalu terkenang sepanjang masa...)
Jika mengingat hal tersebut aku kadang tersenyum kecut, bagaimana dengan diriku sendiri? baru saja menghadapi masalah kecil sudah ketar ketir bak kambing kebakaran jenggot. Aku ingin seperti itu, aku ingin bersama dengan seseorang yang mendampingi hidupku pada saat aku menutup mata nanti. Walau cinta berharap lain, walau angan berkata bukan, tapi nyata hidup yang aku jalani adalah bersamamu... bersama orang yang sekarang mendampingi hidupku, bersama orang yang melahirkan anak-anakku kedunia.
Semoga hal ini dapat membuka mataku, membuka hatiku, dan membuka tempurung yang dinamakan egoisme yang selama ini mengurung ku. Aku ingin menjalani dan mengakhiri hidup bersamamu, dikelilingi oleh anak dan cucu. Tersenyum melihat mereka tumbuh besar dan mempunyai anak-anak.
Semoga aku dapat memperbaiki semua, semoga aku dapat seperti mereka, semoga aku dapat ikhlas mencintaimu seperti waktu pertama kita bertemu... Lina Anida
Tidak ada komentar:
Posting Komentar